Part 3
****
Akhir nya , Dzakwan pun tiba di pondok pesantren
…)
Malam semakin larut ,,,,
Kunang-kunang menghias dalam kegelapan
Pijar lampu-lampu temaram,tertempel menghias pada tiap-tiap dinding rumah penduduk penduduk.
***
Di sebuah kamar, Dzakwan tengah beristirahat
Terasa sulit mata nya untuk terpejam.
Di ambil nya sebuah kitab,,,
Lembaran demi lembaran Ia baca dan memaknai akan arti yg tersirat .
Kekhusuan nya mulai pudar,,,,tatkala tiba-tiba dalam pikiran nya terbayang wajah Dzakya.
Lama semakin lama bayangan itu semakin kuat dalam ingatan nya.
Kegalauan hati meraja,,,,
Kerinduan menggunung,,,
Benih cinta mulai tumbuh di hati nya.
****
Sejenak Dia bangun,,,,dan pergi ke belakang hendak cuci muka dan sekalian ambil air wudhu.
Dzakwan mencoba untuk membaca ayat suci al-Quran,
Dan berharap dengan membaca ayat suci al-Quran Ia dapat melupakan wajah Dzakya yg slalu membayangi dalam pikiran nya.
…)
Di buka nya surat Yaasin,,,,
Di baca nya sekhusu husu nya, namun semua itu hanya sia-sia
Bayang baying Dzakya semakin melekat di pikiran nya dan menjalar ke dalam hati nya.
****
“ya,,,Ilahi”,…!!!!!!!!!!!!
“Kasihanilah hamba-Mu yang lemah ini. Engkau Maha tahu atas apa yang menimpa diriku. Aku tak ingin kehilangan cinta-Mu.
Namun Engkau juga tahu, hatiku ini tak mampu mengusir pesona kecantikan seorang makhluk yang Engkau ciptakan.
Saat ini hamba sangat lemah berhadapan dengan daya tarik wajah dan suaranya Ilahi, berilah padaku cawan kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang menetes-netes dalam dinding hatiku ini.
“ya,,,Ilahi”,,,,,,!!!!!!!!
“tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai.
Aku serahkan hidup matiku untuk-Mu.”
…)
Isak tangis mengharu biru pada Tuhan Sang Pencipta hati, cinta, dan segala keindahan semesta.
Dzakwan terus meratap dan mengiba.
Hatinya yang dipenuhi gelora cinta, terus ia paksa untuk menepis noda-noda nafsu. Anehnya, semakin ia meratap embun-embun cinta itu ,semakin deras mengalir, Rasa cintanya pada Tuhan.
Rasa takut akan azab-Nya, Rasa cinta dan rindu-Nya padaDzakya, Dan rasa tidak ingin kehilangannya.
Semua bercampur dan mengalir sedemikian hebat dalam relung hatinya.
Dalam puncak munajatnya ia pingsan.
Menjelang subuh, ia terbangun. Ia tersentak kaget. Ia belum shalat tahajjud. Beberapa orang tampak tengah asyik beribadah bercengkerama dengan Tuhannya.
Ia menangis, ia menyesal. Biasanya ia sudah membaca dua juz dalam shalatnya.
****
“Ilahi,,,,, jangan kau gantikan bidadariku di surga dengan bidadari dunia.
Ilahi, ,,,hamba lemah maka berilah kekuatan!”
…)
Begitu pun Dzakya,,,,sama hal nya perasaan nya terhadap dzakwan.
Kemelut cinta nya yg menggelora hingga Ia pun lupa akan status dan keimanan yg dia anut.
Dzakwan hanya seorang musyafir,,,,yg berjalan di atas roda kehidupan yg sederhana.
Sedangkan Dzakya, seorang putri sodagar kaya yg selalu berlimpah ruah dengan kekayaan.
Dan 1 hal lagi sebuah perbedaan keyakinan .
…)
Ketika Dzakya tengah asyik di dalam kamar nya, sambil mendendangkan syair-syair cinta.
Terusik telinga nya tatkala selentingan Ia mendengar suara ayah nya tengah bercengkerama dengan sesorang di teras rumah nya.
Rasa penasaran pun menguntit hati nya,,,,,
Keluar lah Ia dari dalam kamar nya , ternyata ayah nya tengah asyik mengobrol dengan sahabat nya.
Di tengah obrolan mereka ,,,,sahabat ayah nya ternyata datang berniat ingin menjadi besanan dan mengangkat Dzakya sebagai menantu nya.
*****
“Hahahahaa,,,,,haaahahahaa
…)
Seperti petir datang menyambar,,,di tengah cuaca yg cerah.
Hati nya Dzakya hancur luluh dalam puing puing cinta nya
Tetesan air mata mengucur deras dalam kesedihan nya
Seperti raga tak bernyawa,,,tak kuasa menahan tangis kepiluan atas perjodohan yg di rencana kan ayah nya.
**** BERSAMBUNG ****

