Angin barat sudah menggoyang dahanmu
Dan engkau menoleh anggun kpd bukit
Hendak meminta persetujuan
Apakah aliran anak sungai ini sdh bleh d buka
Krn tak ada kekuatan yg mampu melawan bandang hasrat
D dlm lambung perahumu
Engkau terus bercumbu dgn kekasihmu
Smbil layarmu berkembang ditiup angin timur
Dan engkau tak lg peduli
Kemana perahumu akan berlayar
Krn kau sndiri sdng menggeluti perahu yg lain
Beting ini tdk bershbat
Mercusuar itu rdah lma dtinggalkan penjaga
Di ganti burung camar yg berebut tempat dgn bangau kembar
Jika perahumu kandas itu pun diatas beting dada kta
Tak perlu panik tak perlu memanggil nelayan di sepanjang pantai yg lg dimabuk cinta
Di ranjang2 mlm mereka
Krn takkan ada yg menolong dan menolong
Bukankah kita tlah berubah menjadi binatang2 cinta
Yg lahir di darat, dan besar d laut
Tp tak mampu terbang dgn tangan
Dan menjadi dwasa pd ruas antara kepala dan dada
Menjadi perkasa antara dada dan selangkang
Menjadi peziarah d ujung tapak kaki dan ujung akal dahi dalam tangan terkatup?
Ya lautan dan badai benturkan kami pada bayang. Gunung dan bukit
Yg terpantul di air bening kawalan para dewa laut dan gunung
Yg menunggu bulan baru muncul di balik bayang terpantul karn sudah 2 abad kmi dilarang menengadah ke langit
Krn setiap tengadah adalah penyingkapan pembalut tubuh
Karena setiap tunduk adalah pelarian dari malu ketelanjangan
Karena setiap rengguk nafas adalah kedalaman yg mengukur dirinya sendiri
Karena stiap desah kita adalh amoksa raga yg melepas rahasia alam menjawab tanya berabad
Mengapa semua ini di tutup?
Mutiara Hati
MH/3/10/11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar